Salam Persahabatan Untuk Semua

Satukan Hati Karena Ilahi

::Hanya Ada Satu Bumi Untuk Kita Tempati Bersama::

::Hanya Ada Satu Negeri Untuk Kita Bangun Bersama::

" INDONESIA "

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------

Kamis, 25 September 2008

Pimpinan Komisi IV Akui Sering Terima Uang

Jakarta - Di persidangan Al Amin Nur Nasution terpapar fakta. Mayoritas, atau 50 anggota Komisi IV DPR menerima suap dari berbagai kasus hutan. Antara lain Tanjung Api-api, Sumsel dan Bintan, Riau. Pimpinan Komisi IV membenarkan pihaknya memang sering menerima uang.


"Yang jelas memang saya sering menerima uang yang termasuk kategori gratifikasi. Tapi semua sudah saya kembalikan ke KPK," kata Wakil Ketua Komisi IV DPR Suswono saat dihubungi via telepon, Selasa (23/8/2008).

Total yang dikembalikan politisi PKS ini mencapai angka Rp 1,2 miliar dalam 11 kali pemberian. "Jadi kalau rekaman yang diputar di persidangan di Tipikor itu memang fakta, itu memprihatinkan. Sebenarnya keputusan yang dilakukan DPR itu kewajiban, tidak perlu ada transaksi," jelasnya.

Apakah dirinya pernah mendengar adanya transaksi? "Ada isu-isu yang muncul, kadang terdengar samar seperti itu. Saya juga sering mengingatkan teman-teman, itu tidak boleh," imbuhnya.

Sebagai contohnya, Suswono mengaku pernah menerima uang Rp 300 juta untuk kasus Tanjung Api-api, yang diberikan pimpinan Komisi IV saat itu yakni Yusuf E Faishal yang kini telah menjadi tersangka.

Dia juga mengaku pernah mendengar, kolega-koleganya membentuk sebuah tim bernama gegana yang disinyalir guna meminta uang seperti itu ke pengusaha.

"Siapa anggotanya tidak tahu pasti. Ada teman yang sering memanfaatkan persoalan yang diputuskan untuk negoisasi. Nama gegana juga mendengarnya dari pengusaha yang pernah dimintai sesuatu. Ini cukup memprihatinkan," urainya.

Dia menuturkan ada 52 wakil rakyat yang duduk di Komisi IV DPR. Dan ada 4 anggota fraksi PKS, yakni Syamsul Hilal, Djalaludin Asy Syatibi, Umung Anwar Sanusi, dan Tamsil Linrung. Dan semuanya mereka telah mengembalikan uang ke KPK.

"Kita fraksi PKS menerima dan sudah dikembalikan. Kebijakan partai tidak boleh menerima, karena itu fraksi memerintahkan menyerahkannya ke KPK," tandasnya.

Apakah Anda tahu bila semua anggota komisi kehutanan mendapatkan gratifikasi. "Kita tidak tahu persis, karena kita tidak menyaksikan," tandasnya.
(ndr/iy)


## Selengkapnya....

Daftar Lengkap Nama-nama Anggota Komisi IV

Jakarta - Sebanyak 50 anggota Komisi IV DPR diduga menerima suap terkait alih fungsi hutan di Tanjung Api-api, Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Anggota Komisi IV dari Fraksi PKS mengakuinya. Namun semua anggota FPKS sudah mengembalikan uang tersebut.


Memang faktanya seperti itu, dan data yang diperoleh oleh KPK memang benar," kata anggota FPKS Tamsil Linrung kepada detikcom pertelepon, Rabu (24/9/2008).

Komisi IV terdiri dari 54 orang, 4 orang sebagai pimpinan dan 50 orang sebagai anggota. Dari jumlah itu, baru anggota FPKS yang mengaku mengembalikan uang. Mereka adalah Suswono, Tamsil Linrung, Syamsul Hilal, Djalaludin Asy Syatibi dan Umung Anwar Sanusi.

Sementara anggota dari fraksi lain sejauh ini belum ada yang menyatakan mengembalikan uang. Ketua Komisi IV Ishartanto tidak bisa dikonfirmasi. Handphonenya tidak aktif.

Berikut nama-nama anggota Komisi IV DPR seperti detikcom kutip dari DPR.go.id:

1. Ketua Komisi IV: Ishartanto (PKB)
2. Wakil Ketua Mindo Sianipar (PDIP)
3. Wakil Ketua Syarfi Hutauruk (Golkar)
4. Wakil Ketua Suswono (PKS)...kembalikan uang
5. Wakil Ketua Hilman Indra (Bintang Pelopor Demokrasi)

Anggota:

6. Joseph Wiliem Lea Wea (Bintang Pelopor Demokrasi)
7. Rusman H M Ali (Bintang Reformasi)
8. H Iman Syuja (PAN)
9. Darmayanto (PAN)
10. Nazamuddin (PAN)
11. Nurhadi M Musawir (PAN)
12. Sudjud Sirajudin (PAN)
13. Apri Hananto Sukahar (PDS)
14. Idham SH (PDIP)
15. Elviana (PDIP)
16. Djoemat Tjiptowardojo (PDIP)
17. Mardjono (PDIP)
18. Ganjar Pranowo (PDIP)
19. Wowo Ibrahim (PDIP)
20. I Made Urip (PDIP)
21. Jacobus Mayong Padang (PDIP)
22. Surya Supeno (Partai Demokrat)
23. I Wayan Sugiana (Partai Demokrat)
24. Nuraeni A Barung (Partai Demokrat)
25. Maruahal Silalahi (Partai Demokrat)
26. Sarjan Tahir (Partai Demokrat)
27. Indria Octavia Muaya (Partai Demokrat)
28. Bomer Pasaribu (Partai Golkar)
29. Azwar Chesputra (Golkar)
30. Ismail Tadjudin (Gollar)
31. S Sumiyati (Golkar)
32. Markum Singodimedjo (Golkar)
33. Soekotjo Said (Partai Golkar)
34. Mohammad Ali Yahya (Golkar)
35. Sumarjaya Linggih (Golkar)
36. Mukhtarudin (Golkar)
37. Fachri Andi Leluasa (Golkar)
38. Mustika Rahim (Golkar)
39. Zainudin Amali (Golkar)
40. Robert Joppy Kardinal (Golkar)
41. Syamsul Hilal (PKS)....kembalikan uang
42. Djalaludin Asy Syatibi (PKS)....kembalikan uang
43. Umung Anwar Sanusi (PKS)....kembalikan uang
44. Tamsil Linrung (PKS)...kembalikan uang
45. Arifin Junaidi (PKB)
46. Mufid A Busyairi (PKB)
47. Ahmad Rawi (PKB)
48. Ariono Wijanarko (PKB)
49. Al Amin Nur Nasution (PPP)....ditangkap KPK
50. Endang Kosasih (PPP)
51. Faqih Chaironi (PPP)
52 .Masusoh Ujati (PPP)
53. Rusnain Yahya (Ppp)
54. Hifnie Sarkawie (PPP)(iy/nrl)


## Selengkapnya....

Selasa, 23 September 2008

Lailatul Qadar


Oleh: Mulhim Mustaqim (shirotsuya.multiply.com)




Lailatul Qadar kok keren? Yup Frens, bener banget. Klo ada temen yang nanyain apa pendapat kita tentang Lailatul Qadar,

singkatnya kita bisa ngejawab: “Wooww, Qweeerreeenntt!!”. Gimana enggak coba, nilai dari satu malam itu tuh lebih baik dari seribu bulan!!^o^ Bwayangin Frens, klo kita-kita nich beramal ibadah pada malam itu tuh berarti nilainya bagai beramal dalam seribu bulan. Gimana nggak keren banget tuh? Itulah salah satu keistimewaan yang Allah berikan pada kita, umat Islam melalui rasul-Nya shalallahu ‘alaihi wasallam. Dalam sebuah riwayat, Anas bin Malik menyampaikan keterangan Rasulullah saw. bahwa: “sesungguhnya Allah swt. mengaruniakan "lailatul qadar" untuk umatku, dan tidak memberikan kepada umat-umat sebelumnya.”
Lebih Jelasnya, Gimana sih Lailatul Qadar Ituh?
Kalau dari arti kata, lailatul qadar tuh artinya malam kemuliaan. Kalau secara istilah (ehmm.. ini rumusan sendiri lho-pen.), lailatul qadar adalah suatu malam di bulan Ramadhan pada tanggal ketika Al-Qur’an diturunkan ke langit dunia, yang penuh dengan kesejahteraan dan kemuliaan, yang nilai kebaikannya lebih baik dari seribu bulan pada bulan-bulan biasa.
Kita baca beberapa dalil terkait dengan lailatul qadar di bawah ini yuks:Allah Ta 'ala berfirman: "Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) saat Lailatul Qadar (malam kemuliaan). Dan tahukah kamu apakah Lailatul Qadar itu? Lailatul qadar itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala uuusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar." (Qs. Al-Qadr: 1-5)
Di ayat lain Allah juga ngasih tau kita bahwa Dia menurunkan Al-Qur'an pada malam Lailatul Qadar, yaitu malam yang full keberkahan. Allah Ta'ala berfirman: "Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Qur-an) pada suatu malam yang diberkahi." (Qs. Ad-Dukhaan: 3)
Dan malam penuh keberkahan itu ada di bulan Ramadhan, sebagaimana firman Allah Ta 'ala: "Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an. "(Qs. Al-Baqarah: 185).

Salah satu sahabat keren yang juga menguasai ilmu tafsir, Ibnu Abbas radhiallahu 'anhu berkata: "Allah menurunkan Al-Qur'anul Karim keseluruhannya secara sekaligus dari Lauh Mahfuzh ke Baitul 'Izzah (langit pertama) pada malam Lailatul Qadar. Kemudian diturunkan secara berangsur-angsur kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sesuai dengan konteks berbagai peristiwa selama 23 tahun."

Apa Aja sih yang Terjadi di Malam Itu?
Malam itu dinamai Lailatul Qadar atau malam kemuliaan karena keagungan nilainya and keutamaannya di sisi Allah Ta 'ala. Juga, karena pada saat itu ditentukan ajal, rizki, dan lainnya selama satu tahun, sebagaimana firman Allah: "Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah." (Qs. Ad-Dukhaan: 4).
Allah berfirman dalam surah Al-Qadr, mengagungkan kedudukan Lailatul Qadar yang Dia khususkan untuk menurunkan Al-Qur'anul Karim: "Dan tahukah kamu apakah Lailatul Qadar itu?" Selanjutnya Allah jelasin nilai keutamaan Lailatul Qadar dengan firman-Nya di ayat selanjutnya: "Lailatul Qadar itu lebih baik dari pada seribu bulan. "
Allah ngasih bocoran ke kita tentang keutamaan lain dari lailatul qadar, juga berkahnya yang melimpah ruah dengan bwaaanyaknya malaikat yang turun di malam itu, termasuk Jibril 'alaihis salam yang super cool itu tuh. Mereka turun dengan ngebawa semua perkara, kebaikan maupun keburukan yang sudah menjadi ketentuan dan takdir Allah. Mereka turun dengan perintah dari Allah. Allah nambahin keutamaan malam tersebut dengan firman-Nya: "Malam itu (penuh) kesejahteraan hingga terbit fajar" (Qs. Al-Qadar: 5)
Maksudnya, malam itu merupakan malam keselamatan dan kebaikan seluruhnya, enggak sedikit pun ada kejelekan di dalamnya, sampai terbit fajar. Di malam itu, para malaikat -termasuk malaikat Jibril tentu- ngucapin salam kepada orang-orang beriman yang sedang beribadah. Wuuaaaahh... qweerreentt choy!! Jarang banget kan kita dapet salam dari para malaikat?

Dalam satu hadits shahih, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam nyebutin keutamaan melakukan qiyamul lail di malam itu. Beliau bersabda: "Barangsiapa melakukan shalat malam pada saat Lailatul Qadar karena iman dan mengharap pahala Allah, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (Hadits Muttafaq 'Alaih)
He... bayangin coba, berapaan sih dosa yang dah kita kumpulin mpe hari ini? Bergunung-gunung kalee! Dan itu semua bakal diampuni oleh Allah swt. pada malam itu. Woww!!
Lailatul Qadar tuh Waktunya Kapan Thoh?
Kalau ada yang nanyain waktunya kapan, jawabannya: RAHASIAAAA!!! Gyahaha... :D Ya memang gitu lah Frens. Bukan karena Allah tuh pelit nggak mau ngasih tau, tapi justru karena sayang, biar kita-kita dapet tantangan. Asyik kan? Nggak seru dhong, klo semuanya dikasih tau gitu aja. Bisa-bisa semua malam lain bulan Ramadhan pada nggak ngapa-ngapain, soalnya mikirnya; “kan aku dah dapet yang lebih baik dari seribu bulan, ngapain repot-repot lagi?” Wadhuu… kacao beliau dah.
So, karena waktunya dirahasiain, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan kita buat mencarinya. Dan tenang aja, dah ada hint-nya koq. Tentang waktunya, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Carilah Lailatul Qadar pada (bilangan) ganjil dari sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan." (HR. Al-Bukhari, Muslim dan lainnya). Yang dimaksud dengan malam-malam ganjil yaitu malam dua puluh satu, dua puluh tiga, dua puluh lima, dua puluh tujuh, dan malam dua puluh sembilan.
Ada keterangan lain lagi nih, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Carilah di sepuluh terakhir bulan Ramadhan, dan carilah pada hari kesembilan, ketujuh dan kelima”. Saya berkata, wahai Abu Said engkau lebih tahu tentang bilangan”. Abu said berkata: ”Betul”. “Apa yang dimaksud dengan hari kesembilan, ketujuh dan kelima”. Berkata:” Jika sudah lewat 21 hari, maka yang kurang 9 hari, jika sudah 23 yang kurang 7 dan jika sudah lewat 5 yang kurang 5.” (HR. Ahmad, Muslim, Abu Dawud dan Al-Baihaqi)
Sebenarnya nih Frens, informasi tentang penentuan kapan terjadinya lailatul qadar, para ulama berbeda pendapat disebabkan beragamnya informasi hadits Rasulullah serta pemahaman para shahabat tentang hal tersebut. Selain dua hadits di atas masih ada beberapa hadits lagi yang menerangkan kapan terjadinya lailatul qadar. Seperti dipahami dari riwayat Ibnu Umar dan Abi Bakrah yang dilaporkan oleh Bukhari dan Muslim, terjadinya lailatul qadar mungkin berpindah-pindah pada malam-malam ganjil sepanjang sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Makanya selama rangkaian waktu itu perlu ‘diwaspadai’, dan tentunya dengan optimal dalam beribadah.
Sebagai tambahan informasi bagi kita, ada beberapa tanda-tanda saat berlangsungnya lailatul qadar. Seperti diriwayatkan oleh Imam Muslim, Ahmad, Abu Daud dan Tirmidzi, bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda: "Pada saat terjadinya lailatul qadar itu, malam terasa jernih, terang, tenang, cuaca sejuk tidak terasa panas, tidak juga dingin. Dan pada pagi harinya matahari terbit dengan terang benderang tanpa tertutup sesuatu awan".

So, What Must We Do?
Pastinya kita-kita jangan mpe ketinggalan ma tuh malam. Kita kudu nge-optimalin dan manfaatin semaksimal mungkin. Kalao perlu nggak usah tidur dah pada malam itu J. Whee… tapi bukan buat nonton wayang lho, or nonton pertandingan bola. Enggak laaah. Yha buat ibadah dong. Soalnya sekali lagi, beribadah di malam itu dengan ketaatan, shalat, tilawah, dzikir, do'a dan sebagainya tuh sama dengan beribadah selama seribu bulan di waktu-waktu lain. Coba kita itung aja, pasti ketemunya seribu bulan sama dengan 83 tahun 4 bulan. Kan untung banget kan kita, beribadah cuma semalam tapi dah kayak 83 tahun. Umur kita aja nggak tau nieh, bisa nggak sampai segitu. Bisa jadi, enggak nyampe setahun ke depan kita dah qoid. Atau jangan-jangan, bulan depan dah alharhum. Makanya tuh, jangan disia-siain kesempatan ini.
Di awal dah kita sebutin bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa melakukan shalat malam pada saat Lailatul Qadar karena iman dan mengharap pahala Allah, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. " (Hadits Muttafaq 'Alaih) So, saat lailatul qadar kita musti qiyamul lail. Adapun qiyamul lail tuh di dalamnya yakni menghidupkan malam tersebut dengan shalat tarawih, sholat tahajjud, membaca Al-Qur'anul Karim, dzikir, do'a, istighfar dan taubat kepada Allah Ta 'ala.


Lebih sistematisnya, agar kita dapat menggapai lailatul qadar, kita perlu melakukan:
Lebih bersungguh-sungguh dalam menjalankan semua bentuk ibadah pada hari-hari Ramadhan, menjauhkan diri dari semua hal yang dapat menghilangkan keseriusan beribadah. Dalam beribadah hendaknya mengikutsertakan keluarga. Hal itulah yang dahulu dicontohkan Rasulullah SAW.
Malakukan i'tikaf dengan sekuat tenaga. Melakukan tarawih berjama'ah, sampai dengan rakaat terakhir yang dilakukan imam.
Memperbanyak do'a memohon ampunan dan keselamatan kepada Allah SWT dengan lafal "Allahumma innaka 'afuwun tuhibbul afwa fa'fu ‘anni" (Ya Allah ya Tuhan kami, Engkau adalah Maha Pengampun, Mencintai Ampunan, maka ampunkanlah diri saya.)

Nah, gimana, dah pada ngerti toh kalau ada malam yang super keren kayak gitu? Ayo rame-rame kita cari dan kita optimalin bareng-bareng. So, Frens, selamat berburu Lailatul Qadar yach! SMANGAAATTT!!! ^o^ [ ]


## Selengkapnya....

Senin, 22 September 2008

Jamuan Ramadhan

Semoga Allah memberikan umur kepada kita untuk menikmati jamuan-Nya yang sangat spektakuler saat ini, yaitu datangnya bulan Ramadhan. Jamuan Allah yang membuat orang yang putus harapan jadi bisa berharap, yang putus asa jadi bisa bangkit, yang hampir lumpuh semangatnya bisa berkobar lagi. Janji-janji Allah di bulan Ramadhan ini memang begitu dahsyat

Seumpama benih yang telah mati, tiba-tiba diberi pupuk yang membangkitkan kekuatan dahsyat sehingga apapun yang layu dibuatnya tegar kembali.
Kalaulah kita banyak menghadapi hidup ini dengan rasa berat, seakan-akan tipis harapan, maka Ramadhan adalah saat dimana Allah tidak akan mengecewakan hamba-Nya yang berharap dari keberkahan bulan ini.
Seharusnya kita bersimbah air mata karena merasa sangat ingin menikmati jamuan Allah SWT pada bulan Ramadhan kali ini. Seperti saat kita melihat seorang dermawan yang kaya raya dan mulia akhlaknya akan menjamu seseorang, dan ternyata kita akan merasa gembira sekiranya kita diundang atau dijamu oleh orang yang sangat kita segani ini.
Apalagi Ramadhan bukanlah jamuan dari makhluk, tapi langsung jamuan dari Pencipta Alam Semesta yang Mahatahu lumuran dosa kita, yang Mahatahu segala derita dan harapan dan harapan kita. Amatlah rugi andaikata kita tidak termasuk orang yang merasa sangat ingin memasuki Ramadhan ini dalam keadaan siap.
Berikut ini adalah khutbah Nabi SAW ketika menyambut bulan Ramadhan. Beliau bersabda : "Wahai manusia! Sungguh telah datang pada kalian bulan penuh berkah, rahmat dan maghfirah. Bulan yang paling mulia disisi Allah. Hari-harinya adalah hari-hari yang paling utama. Malam-malamnya adalah malam-malam yang paling utama. Jam demi jamnya adalah jam-jam yang paling utama.
Inilah bulan ketika engkau diundang menjadi tamu Allah dan dimuliakan oleh-Nya. Pada bulan ini nafas-nafasmu menjadi tasbih, tidurmu ibadah, amal-amalmu diterima dan doa-doamu diijabah.Bermohonlah kepada Allah Robb-mu dengan niat yang tulus dan hati yang suci agar Allah membimbingnya untuk melakukan shaum dan membaca kitab-Nya. Sungguh celaka orang yang tidak mendapatkan ampunan Allah pada bulan yang agung ini.
Kenanglah dengan rasa lapar dan hausmu sebagai kelaparan dan kehausan pada hari kiamat. Bersedekahlah kepada kaum fuqara dan masakin. Muliakanlah orang tuamu, sayangilah yang muda, sambungkan tali persaudaraanmu, jaga lidahmu. Tahanlah pandanganmu dari yang tidak halal kamu memandangnya, dan jagalah pula pendengaranmu dari apa yang tidak halal kamu mendengarnya. Kasihilah anak-anak yatim, niscaya dikasihi manusia anak-anak yatimmu.
Bertaubatlah kepada Allah dari dosa-dosamu. Angkatlah tanganmu untuk berdoa dalam shalat-shalatmu karena itulah saat-saat yang paling utama ketika Allah Azza wa Jalla memandang hamba-hamba-Nya dengan penuh kasih. Dia menjawab mereka ketika mereka menyeru-Nya, menyambut mereka yang memanggil-Nya dan mengabulkan mereka ketika mereka berdoa kepada-Nya.

Wahai manusia! Sesungguhnya diri kalian tergadai karena amal-amal kalian, maka bebaskanlah dengan istighfar. Pungung-punggung-mu berat karena beban (dosa)mu, maka ringankanlah dengan memperpanjang sujudmu. Ketahuilah, Allah Taala bersumpah dengan segala kebesarannya, bahwa dia tidak akan mengazab orang-orang yang shalat dan sujud dan tidak akan mengamcam mereka dengan neraka pada hari manusia berdiri dihadapan Robbul alamin.
Wahai manusia! Barangsiapa diantaramu memberi (makanan untuk) berbuka kepada orang-orang mukmin yang melaksanakan shaum pada bulan ini, maka disisi Allah nilainya sama dengan membebaskan seorang budak dan ia diberi ampunan atas dosa-dosanya yang lalu.
Para sahabat bertanya'"Ya Rasulullah tidaklah kami semua mampu berbuat demikian". Rasulullah meneruskan (khutbahnya),"Jagalah diri kalian dari api neraka walaupun hanya dengan sebiji kurma. Jagalah diri kalian walupun hanya dengan seteguk air".
Wahai manusia! Barangsiapa membaguskan akhlaknya pada bulan ini, dia akan berhasil melewati shirath pada hari ketika kaki-kaki tergelincir. Barangsiapa meringankan pekerjaan orang-orang yang dimiliki tangan kanannya (pegawai atau pembantu) pada bulan ini, Allah akan meringankan pemeriksaan-Nya pada hari kiamat.
Barangsiapa menahan kejelekannya pada bulan ini, Allah akan menahan mulut-Nya pada hari dia berjumpa dengan-Nya. Barangsiapa memuliakan anak yatim pada bulan ini, Allah akan memuliakannya pada hari dia berjumpa dengan-Nya.
Barangsiapa menyambungkan tali persaudaraan (silaturahmi) pada bulan ini, Allah akan menghubungkan dia dengan rahmat-Nya pada hari dia berjumpa dengan-Nya. Barang siapa memutuskan kekeluargaan pada bulan ini, Allah akan memutuskan daripadanya rahmat-Nya pada hari dia berjumpa dengan-Nya.
Barangsiapa melakukan shalat sunat pada bulan ini, Allah akan menuliskan baginya kebebasan dari api neraka. Barangsiapa melakukan shalat fardhu, baginya ganjaran seperti melakukan tujuh puluh shalat fardhu pada bulan yang lain.
Barangsiapa memperbanyak shalawat kepadaku pada bulan ini, Allah akan memberatkan timbangannya pada hari ketika timbangan meringan. Barangsiapa pada bulan ini membaca satu ayat Al Quran maka pahalanya sama seperti mengkhatamkan Al Quran pada bulan-bulan yang lain.
Wahai manusia! Sesungguhnya pintu-pintu surga dibukakan bagimu, maka mintalah kepada Tuhan-mu agar tidak pernah menutupkannya bagimu. Pintu-pintu neraka tertutup, maka mohonlah kepada Robbmu agar tidak akan pernah dibukakan bagimu. Setan-setan dibelenggu maka mintalah agar mereka tidak pernah lagi menguasaimu.

Amirul Mukminin, Ali bin Abi Thalib karomallhu wajhah berdiri dan berkata'"Ya Rasulullah, amal apa yang paling utama pada bulan ini?". "Ya Abul Hasan amal yang paling utama pada bulan ini adalah menjaga diri dari apa yang diharamkan Allah Azza wa Jalla" jawab Nabi SAW (HR.Ibnu Khuzaiman,Ibnu Hibban dan Baihaqi)
Nah sahabat. Kita tidak akan pernah berjumpa dengan kemudahan ampunan kecuali di bulan Ramadhan ini. Sebanyak dan semelimpah apapun dosa kita, sungguh Allah menjanjikan ampunan-Nya di bulan ini. Kalau kita merasa berat hidup karena lumuran dosa dan maksiat, maka ketahuilah ampunan Allah di bulan Ramadhan lebih dahsyat daripada dahsyatnya dosa-dosa kita. Kalau kita merasa gersang dan kering, maka Ramadhan adalah sarana yang paling cepat untuk mendapatkan rahmat-Nya. Kalau kita dililit utang piutang, maka Allah adalah Dzat Mahakaya yang menjanjikan terkabulnya terkabulnya doa,
dilunasi-Nya apa yang kita butuhkan.
Karenanya sungguh sangat rugi andaikata kita tidak bergembira ria, tidak bersemangat dalam menghadapi hidup ini. Ramadhan diawali dengan adzan berkumandang, maka itulah saat syetan dibelenggu, dimulainya hitungan pahala amal yang berbeda, dibukanya pintu-pintu surga, ditutupnya pintu-pintu neraka. Maka sudah selayaknya kita harus sangat bersungguh-sungguh berharap agar Allah menjamu kita dengan menyiapkan diri jadi orang yang layak dijamu oleh Allah.

Disunting dari : Manajemen Qolbu – AA Gym
## Selengkapnya....

Makna Tawakal

"Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan kamu melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah. Maka bertasbihlah dengan memuji nama tuhanmu dan mohon ampunlah kepadaNya. Sesungguhnya Dia Maha Penerima Taubat." (QS. An-Nashr [110] : 1-3).


Firman Allah di atas berkaitan dengan adanya peristiwa futuh (penaklukan) Mekah, dimana pada saat itu kaum Muslimin yang dipimpin langsung oleh Rasulullah SAW, menyerbu kota Mekah untuk dijadikan kota yang bersih dari berhala. Dengan membawa ratusan ribu kaum muslimin, akhirnya Rasulullah dapat dengan mudah menaklukan kota Mekah.Rasulullah SAW memerintahkan kepada penduduk Mekah agar mereka berlindung di dalam Ka'bah dan di rumah Abu Sufyan. Meski Abu Sufyan belum memeluk Islam, namun Rasulullah tetap menghormatinya. Abu Sufyan adalah salah satu pembesar yang dihormati kota Mekah kala itu. Allah SWT memerintahkan kepada kita agar kita senantiasa mengingat Allah dikala kita memperoleh kemenangan sehingga kita tidak terlena dan melupakan Allah. Dalam ayat terakhir Allah SWT memerintahkan agar kita senantiasa bertasbih yaitu mensucikan namaNya dengan memuji namaNya dan memohon ampun (beristighfar). Di dalam ayat itu terkandung makna agar kita selalu menyerahkan segala urusan (bertawakal ) sepenuhnya kepada Allah setelah kita berusaha dengan sekuat tenaga. Tetapi makna tawakal itu jangan sampai disalahartikan, karena banyak sekali umat Islam salah dalam mengartikan kata tawakal. Seperti kita ketahui bahwa umat Islam terdiri dari berpuluh-puluh kelompok aliran, salah satunya adalah golongan Jabariyah. Mereka mengartikan kata tawakal menurut logika mereka, sehingga golongan ini lebih banyak berdiam diri dalam mencari rezeki Allah. Menurut mereka, rezeki itu sudah diatur oleh Allah dan tidak akan berkurang. Manurut Aam Amirudin, Lc. dalam bukunya Tafsir Kontemporer, beliau memaparkan makna tawakal sebagai berikut. Pertama, kita dianjurkan untuk bermujahadah atau bersungguh-sungguh dalam mencari rezeki atau dalam hal apapun sehingga kita mempunyai nilai lebih di hadapan Allah SWT. Pernah ada seorang sahabat yang berkata kepada Rasulullah bahwa ia akan membiarkan untanya dilepas, lalu ia akan bertawakal kepada Allah SWT. Rasulullah melarang perbuatan dan sikap sahabat tersebut. Beliau menyuruh sahabatnya itu agar mengikat untanya, lalu bertawakal kepada Allah. Kedua, selaku muslim kita pun dianjurkan untuk berdo'a kepada Allah, karena dengan berdo'a kita bisa mengetahui siapa diri kita, siapa pencipta kita, sehingga menimbulkan rasa rendah diri di hadapan Allah. Do'a merupakan senjata yang paling ampuh bagi kaum Muslimin. Nabi Ibrahim AS pernah berdo'a agar tempat yang ditempati oleh Siti Hajar dan Isma'il dijadikan sebagai tempat yang subur. Do'a Nabi Ibrahim AS dikabulkan oleh Allah SWT. Nabi Ibrahim juga berdo'a kepada Allah SWT agar anak beserta keturunannya dijadikan hamba-hamba yang senantiasa melaksanakan shalat. Allah mengabulkan do'anya, terbukti dengan banyaknya keturunan dari Nabi Ibrahim yang menjadi Nabi dan Rasul, salah satunya Nabi Muhammad SAW. Begitu dahsyatnya do'a yang kita panjatkan kepada Alah SWT sehingga tidak ada seorang pun yang dapat menghalanginya. Firman Allah dalam Al-Qur'an Surat Al-Baqarah ayat 152, ">

## Selengkapnya....

Mari Meraih "Piala Lalilatul Qadar"

Suara-suara tilawah terdengar sayup, keramaian tarawih di rumah Allah makin menyepi. Padahal itulah tanda kesempatan “pemburu” surga menggapai anugerah

Oleh; Hermanto Harunn *

SEPULUH akhir Ramadan menghamparkan sajadah permadani bagi hamba-bamba yang mamasrahkan raganya dalam puasa. Semester pembebasan diri dari neraka (‘itq min al-nar) seperti yang disabdakan baginda Rasul telah menyambut dengan hangat dan penuuh pesona. Suasana shalat tarawih, tadarusan Al-Quran dan qiyam lail (shalat malam) terasa semakin menyatu dengan ragam aktivitas keseharian, bahkan melebur menjadi sebuah kesatuan yang tak terpisahkan dari gerak raga. Pelbagai aktivitas Ramadan yang terangkum dalam ritual ibadah sepertinya berbaur dalam budaya, dan menjadi ikon tradisi yang tak boleh terlewatkan oleh pendulang pahala dalam ibadah jiwa.
Dua puluh hari pertama Ramadan menapak perjalanannya. Bulan yang penuh ampunan dan keberkahan ini terus mengeja langkahnya menuju puncak sisa-sisa masa. Garis finis hitungan Ramadan telah menjemput hitungan hari-hari akhirnya. Suara-suara tilawah terdengar sayup, keramaian tarawih di rumah Allah semakin menyepi, kecerian sahur semakin redup ditelan detik-detik waktu kepergian Ramadan. Namun bulan yang penuh keistimewaan ini tetap menyisakan kesempatan kepada pemburu surga untuk menggapai pengharagaan puncak di malam anugerah. Bahkan semakin redupnya cahaya purnama, sayembara Ramadan semakin membuka kesempatan bagi pelaku puasa untuk berlomba menggapai pahala “citra”nya.
Sepuluh terakhir Ramadan adalah puncak dari pesta ritual jiwa. Raga dianjurkan berkontemplasi dan jiwa bermeditasi dan i’tikaf atau merajut malam dengan benang-benang zikir, tasbih dan istighfar. Meditasi diri (i’tikaf) dengan menenggelamkan resah asa dalam lautan ibadah untuk menjemput ketenangan jiwa. Ketentraman, ketenangan dan keterarahan jiwa akan menguburkan keakuan yang kadang tanpa sadar bersemayam dalam hati-hati yang pongah. Hati, sebagaimana raga lainnya pada tubuh manusia, jelas tersimbah polusi. Nabi Muhammad saw bersabda: hati itu berkarat seperti berkaratnya besi. Karatan hati adalah polusi yang tidak nyata. Ia terasa tapi tak terlihat. Wujudnya menyesakkan tapi bentuknya abstrak. Hati yang bersimbah polusi tercermin dari gerak raga, raut muka dan ungkapan kata. Polusi itu tampa tubuh tapi memiliki nama seperti hasad, dengki, irihati, buruk sangka dan puncaknya kemunafikan.
Bahkan polusi hati merupakan limbah yang sangat berbahaya. Seperti api dalam sekam, asapnya terus menjulang, mengaburkan pemandangan namun apinya bersembunyi dibalik jerami. Inilah yang pernah diwanti oleh baginda Nabi; sunguh dalam tubuh manusia itu ada segumpal daging, jika daging itu baik maka baiklah seluruh tubunya dan jika daging itu rusak maka rusaklah seluruh tubuhnya.
Malam puluh akhir Ramadan merupakan terapi dari penyakit yang bersarang dalam jiwa. Terapi itu sangat menjanjikan, bahkan kemujarabannya pasti sangat terasa. Terapi jiwa itu terdapat dalam sebuah anugerah yang bernama lailat al-qadr. Malam yang diarsipkan oleh Al-Quran sebagai malam terbaik dari seribu bulan. Seperti firman Allah swt yang artinya: sesungguhnya Kami talah menurunkannya (Al-Quran) pada malam kemulyaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemulyaan itu?pad amalam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejehteraan sempai terbit fajar. (QS: al-Qadr,1-5).
Kebaikan dan keagungan yang terhimpun dalam lailat al-Qadr tentu tidak bisa dihitung dengan jumlah angka. Seribu bulan merupakan waktu minimal jika harus menghitung-menghitungnya. Tapi Al-Quran mengisyaratkan bahwa malam anugerah itu lebih baik (khaira) dari jumlah 83 tahun. Ungkapan “lebih baik” memiliki makna kebaikan yang tanpa batas, berlipat ganda dan tak mungkin untuk diumpamakan, karena kalimat “lebih baik” mengandung arti ketidak-berbandingan, kemustahilan untuk disandingkan harganya dengan apapun. Ungkapan seribu bulan (83 tahun 4 bulan) hanya sebuah tamsil minimum bagi logika manusia yang selalu terkungkung dalam kerja dengan pahala, yang senantiasa mengharap imbal dari jerih usaha. Intinya, “alfi syahr” hanya sebatas ungkapan untuk menjelaskan kebaikan Tuhan dalam keterbatasan seorang hamba memahami kedalaman bahasa-Nya.
Jika harus disederhanakan, Lailat al-Qadr bermakna malam kemulyaan. Sayyid Qutb dalam tafsirnya Fi Zilal Al-Quran mengartikan lailat al-qadr sebagai al-taqdir wa al-tadbir (penghargaan dan pengaturan), juga al-qimah wa al-maqam (kualitas nilai dan tempat). Menurut dia, kedua makna ini selaras dengan kejadian keagungan alam yang telah dianugerahkan Al-Quran, al-Wahyu dan al-Risalah.
Menurut Sayyid Ahmad al-Musayyar dalam bukunya al-Rasul fi Ramadan, Lailat al-Qadr terjadi dalam dua malam. Pertama, malam ketika Rasulullah saw sedang dalam gua Hira dan bertemu dengan malaikat Jibril yang membawa wahyu pertama, Iqra’. Malam itu hanya terjadi bagi baginda Rasul dan peristiwa bersejarah itu tidak akan terulang lagi kepada umatnya sampai kapanpun. Menurut ahli sejarah, kejadian itu terjadi pada malam kedua puluh tujuh bulan Ramadan pada tahun ke 41 dari kelahiran Nabi saw, bertepatan dengan 6 Agustus tahun 610 Masehi.
Kedua, malam ibadah yang telah diperuntukkan oleh Allah kepada kaum muslimin yang ganjarannya melebihi kebaikan ibadah seribu bulan. Malam ini para malaikat turun menyapa semua hamba yang bersujud kahadapan Tuhan. Para malaikat menabur salam ketenangan, kesejukan dan ketenteraman sampai tergelincirnya malam.
Malam yang penuh anugerah bagi segenap hamba itu penuh rahasia. Hal ini agar semua hamba bergegas dan selalu mengintip kehadirannya. Para ulama berbeda pendapat tentang waktu kejadian malam anugerah itu. Sebagian berpendapat bahwa malam itu terjadi pada malam sepuluh terakhir dalam bulan Ramadan. Pendapat ini berargumentasi pada hadits Nabi: taharraw lailat al-qadr fi al witri min al-‘asyri al-awakhiri min Ramadan. “Carilah lailatul qadr pada malam ganjil dari puluh akhir Ramadan.” (HR Bukhari). Ada juga ulama yang berpandangan bahwa malam lailat al-qadr mungkin terjadi dalam setiap malam dalam setahun. Juga ada pendapat yang mengkhususkan lailat al-dadr hanya terjadi di antara malam-malam bulan Ramadan. Perbedaan pendapat tentang tepatnya kejadian malam kemulyaan itu, bahkan menurut Ibn Hajar mencapai 41 pendapat.
Ragam pendapat dan pandangan tentang malam al-qadr itu menjadi keniscayaan mengingat perbedaan interpretasi dari banyaknya argumentasi tentang lailat al-qadr. Namun agaknya yang prioritas dan layak untuk disepakati adalah lailat al-qadr merupakan kejadian yang maha luar biasa bagi alam semesta. Malam yang lebih baik dari seribu bulan ini merupakan klimaks dari pengejewantahan sikap pasrah seoarang hamba dalam mengais ridha penciptanya.
Inilah isyarat dari do’a Nabi yang diajarkan kepada istrinya tercinta ‘Aisyah ra, ketika merindukan malam al-qadr “allahumma innaka ‘affuw karim tihibbu al-‘afwa fa’fu ‘anni” (Ya Allah sesungguhnya Engkau maha pemaaf dan suka mema’afkan, maka maafkanlah aku.”) (HR Ahmad, Ibn Majah, Turmuzi dari Aisyah).
Lailat al-Qadr merupakan malam anugerah tertingi kepada hamba. Malam yang tak tergantikan oleh malam-malam lain selama setahun. Malam anugerah itu diperuntukkan hanya bagi hamba yang berkeinginan menggapainya. Hamba yang tersungkur di bentangan sajadah, berserah dan pasrah. Sujud meletakkan dahinya yang tinggi diposisi yang sejajar dengan ujung kaki. Hamba yang menyahut panggilan salam para malaikat dengan bacaan-bacaan kalam ilahi. Hamba yang mengakui status kehambaannya di hadapan Allah. Hamba yang menghias malamnya dengan penuh keheningan, menguak syahdu gelap malam dengan mekar jemari yang bertakbir, mulut yang bertasbih dan berzikir. Hamba yang mengkomunikasikan lapar dan dahaganya dengan ridha Sang Pemberi rezeki. Hamba yang pandangan mata dan hatinya tertunduk menatap ujung sajadah sebagai tabir jendela surga.
Itulah gapaian lalilat al-qadr yang sudah pasti anugerah bagi pemburunya di tengah syahdunya malam. Sungguh mulya bagi seorang hamba yang telah menggapainya. Semoga kita mendapat piala lailat al qadr atau minimal mendapat undangan untuk menyaksikan malam anugerah itu. Amiin!


Penulis adalah dosen IAIN STS Jambi. Kini sedang menyelesaikan Program Doktoral di University Kebangsaan Malaysia
## Selengkapnya....

MAHABBAH (RASA CINTA) DAN TINGKATANNYA

Di antara unsur-unsur pokok dalam ukhuwwah adalah mahabbah (kecintaan). Adapun tingkatan mahabbah yang paling rendah adalah bersihnya hati (salamush shadr) dari perasaan hasud, membenci, dengki dan sebab-sebab permusuhan dan pertengkaran

Al Qur'an menganggap permusuhan dan saling membenci itu sebagai siksaan yang dijatuhkan (oleh Allah) terhadap orang-orang yang kufur terhadap risalah-Nya dan menyimpang dari ayat-ayat-Nya. Sebagaimana firman Allah SWT:
"Dan di antara orang-orang yang mengatakan, "Sesungguhnya kami ini orang-orang Nasrani, telah kami ambil perjanjian mereka, tetapi mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diberi peringatan dengannya; maka Kami timbulkan di antara mereka permusuhan dan kebencian sampai hari kiamat. Dan kelak Allah akan memberitakan kepada mereka apa yang selalu mereka kerjakan." (Al Maidah: 14)
Al Qur'an telah berbicara tentang khamr dan judi yang keduanya termasuk dosa besar yang mencelakakan dalam pandangan Islam. Sebagai alasan pertama diharamkannya adalah menimbulkan permusuhan dan kebencian dalam masyarakat, betapa pun keduanya berbahaya dari sisi yang lainnya yang juga tidak bisa disembunyikan, Allah SWT berfirman:
"Sesungguhnya syetan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamr dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat, maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjan itu). (Al Maidah: 91)
Di dalam hadits penyakit-penyakit itu disebut sebagai "Penyakit Ummat (Da'ul Umam). Di kesempatan lain Rasulullah juga menamakannya sebagai "Perusak" (Al Haliqah). Yaitu yang merusak agama, bukan merusak (memotong) rambut, disebabkan bahayanya bagi kesatuan jamaah dan keterkaitannya dengan sisi materi dan moral. Rasulullah SAW bersabda:
"Maukah kamu saya tunjukkan amal yang lebih utama derajatnya daripada derajat shalat, puasa dan sedekah? Yaitu memperbaiki hubungan antar dua orang (yang berselisih), sesungguhnya rusaknya hubungan itulah yang merusak (memutuskan)." (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
"Telah merata kepadamu penyakit ummat terdahulu, "Itulah hasud dan kebencian, sementara kebencian itulah yang merusak, saya tidak mengatakan 'merusak (memotong) rambut' tetapi merusak agama." (HR. Al Bazzar)
"Pintu-pintu surga itu dibuka pada hari Senin dan Kamis, maka diampuni pada tiap hamba yang tidak syirik kepada Allah, kecuali seseorang yang antara dia dengan saudaranya terjadi permusuhan, maka dikatakan, "Lihatlah kedua orang itu!," hingga mereka berdamai, (disampaikan tiga kali)" (HR. Muslim).
Dalam hadits lain Rasulullah SAW bersabda:
"Tidak halal bagi seorang Muslim mendiamkan saudaranya selama tiga hari, yang apabila saling bertemu maka ia berpaling, dan yang terbaik di antara keduanya adalah yang memulai dengan ucapan salam." (HR. Bukhari Muslim)
"Ada tiga orang yang shalatnya tidak diangkat di atas kepala sejengkal pun, "Seseorang yang mengimami suatu kaum, sedangkan kaum itu membencinya, dan wanita yang diam semalam suntuk sedang suaminya marah ke.padanya, dan dua saudara yang memutus hubungan di antara keduanya." (HR. Ibnu Majah)
Sesungguhnya suasana benci dan permusuhan adalah suasana yang busuk yang tidak menyenangkan, saat itulah syetan bisa menjual dagangannya dengan laris, seperti berburuk sangka, mencari-cari kesalahan orang lain, ghibah (membicarakan aib orang lain), mengadu domba, berkata bohong dan mencari serta melaknat, sampai pada tingkatan saling membunuh di antara saudara. Ini adalah suatu bahaya yang diperingatkan oleh Rasulullah SAW dan dianggap sebagai sisa kejahiliyahan, Nabi SAW bersabda:
"Janganlah kamu kembali menjadi kafir setelahku, (yaitu) dengan memukul sebagian di antara kamu terhadap leher yang lain." (HR. Bukhari dan Muslim)
Nabi SAW juga bersabda:
"Mencaci maki seorang Muslim itu suatu kefasikan, dan membunuhnya adalah suatu kekufuran." (HR. Bukhari-Muslim)
Oleh karena itu memperbaiki hubungan saudara adalah termasuk amal ibadah yang paling mulia. Allah SWT berfirman:
"Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara dua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat" (Al Hujuraat: 10)
"Bertaqwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara sesamamu, dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang yang beriman." (Al Anfal: 1)
"Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dan orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma 'ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar." (An-Nisa': 114)
Bahkan syari'at telah memberikan bagian tersendiri dari hasil zakat untuk orang-orang yang memiliki hutang dalam memperbaiki hubungan di antara mereka. Untuk membantu mereka agar dapat melakukan kemuliaan ini yang semula dilakukan oleh orang-orang yang berjiwa besar dan memiliki cita-cita yang luhur (tinggi). Maka mereka itulah yang menanggung denda dan hutang para kabilah yang sedang bertengkar. meskipun mereka sendiri tidak memiliki harta secara leluasa.
Karena pentingnya memperbaiki hubungan antara dua fihak, maka Rasulullah SAW memberikan rukhsah (keringanan) terhadap orang yang melakukan perbaikan hubungan untuk tidak selalu dalam kejujuran yang sempurna dalam menentukan sikap pada masing-masing dari dua kelompok (pihak). Sehingga ia bisa (dibolehkan) memindahkan sebagian kata-kata sebagaimana dikatakan, yang telah menyalakan api permusuhan dan tidak memadamkannya, maka tidaklah mengapa dengan sedikit memperindah atau sedikit berdiplomasi (tauriyah). Rasulullah SAW bersabda:
"Bukanlah pembohong orang yang memperbaiki (mendamaikan) antara dua orang, lalu ia berkata dengan baik atau menambahi lebih baik. (HR. Ahmad)
Yang lebih tinggi dari tingkatan salaamatush shadr (bersihnya hati) dari rasa dengki dan permusuhan adalah tingkatan yang diungkapkan dalam hadits shahih sebagai berikut:
"Tidak sempurna iman seseorang di antara kamu sehingga ia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri." (HR. Muttafaqun 'Alaih)
Berarti dengan demikian maka ia juga membenci segala sesuatu yang menimpa atas saudaranya sebagaimana ia membenci sesuatu itu menimpa dirinya. Maka jika ia senang jika dirinya memperoleh kemakmuran hidup maka ia juga menginginkan demikian itu terhadap orang lain. Dan jika ia menginginkan mendapat kemudahan dalam kehidupan berkeluarga(nya), maka ia juga menginginkan hal itu diperoleh orang lain. Dan jika ia ingin anak-anaknya menjadi cerdas, maka ia juga menginginkan hal yang sama untuk orang lain. Dan jika !a menginginkan untuk tidak disakiti baik ketika berada di rumah atau ketika sedang bepergian, maka begitu pula ia menginginkan kepada seluruh manusia. Dengan demikian ia menempatkan saudaranya seperti dirinya dalam segala sesuatu yang ia cintai dan ia benci.


## Selengkapnya....