Salam Persahabatan Untuk Semua

Satukan Hati Karena Ilahi

::Hanya Ada Satu Bumi Untuk Kita Tempati Bersama::

::Hanya Ada Satu Negeri Untuk Kita Bangun Bersama::

" INDONESIA "

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------

Rabu, 08 April 2009

Serial Cinta

Category:Books
Genre: Nonfiction
Author: Anis Matta
Akhirnya serial cinta yang dimuat secara rutin di salah satu majalah islam, Tarbawi, akhirnya dibukukan.

Salah satu karya Anis Matta...Serial Cinta....yang memiliki cita rasa mendalam akan hakekat cinta yang sesungguhnya. Disajikan dengan gaya bahasa khas Anis Matta...buku ini sangat layak dikonsumsi oleh siapapun.


Buku ini bercerita banyak tentang cinta, yang beberapa diambil dari kisah-kisah cinta orang terdahulu yang referensinya dapat dibuktikan dalam sejarah. Kita diajarkan pula bagaimana memaknai cinta yang sesungguhnya...cinta kepada Tuhan, pasangan, dakwah, dan orang-orang di sekitar kita.

Berikut ini saya kutipkan dari salah satu isi dari buku Serial Cinta.....

Silakan menikmati....
-------------------------------*

Cinta Terkembang Jadi Kata
Oleh Anis Matta

Selalu begitu. Cinta selalu membutuhkan kata. Tidak seperti perasaan-perasaan lain, cinta lebih membutuhkan kata lebih dari apapun. Maka ketika cinta terkembang dalam jiwa tiba-tiba kita merasakan sebuah dorongan yang tak terbendung untuk menyatakannya. Sorot mata takkan sanggup menyatakan semuanya.

Tidak mungkin memang. Dua bola mata kita terlalu kecil untuk mewakili semua makna yang membuncah di laut jiwa saat badai cinta datang. Mata hanya sanggup menyampaikan sinyal pesan bahwa ada badai di laut jiwa. Hanya itu. Sebab cinta adalah gelombang makna-makna yang menggores langit hati, maka jadilah pelangi; goresannya kuat, warnanya terang, paduannya rumit, tapi semuanya nyata. Indah.

Itu sebabnya ada surat cinta. Ada cerita cinta. Ada puisi cinta. Ada lagu cinta semuanya adalah kata. Walaupun tidak semua kata mampu mewakili gelombang makna-makna cinta, tapi badai itu harus diberi kanal; biar dia mengalir sampai jauh. Cinta itu membuat makna-makna itu jadi jauh lebih nyata dalam rekaman jiwa kita. Bukan hanya itu.

Cinta bahkan menyadarkan kita; langit, laut, gunung, padang rumput, tepi pantai, gelombang, purnama, matahari, senja, gelap malam, cerah pagi, taman bunga, burung-burung. Tiba-tiba semua itu punya arti. Tiba-tiba semua wujud itu masuk ke dalam kesadaran kita. Tiba-tiba semua wujud itu menjadi bagian dari kehidupan kita. Tiba-tiba semua wujud menjadi kata yang setia menjelaskan perasaan-perasaan kita. Tiba-tiba semua wujud itu berubah menjadi metafora-metafora yang memvisualkan makna-makna cinta.

Itu sebabnya para pecinta selalu berubah menjadi sastrawan atau penyair atau penyanyi. Atau setidak-tidaknya menyukai karya-karya para sastrawan, menyukai puisi, atau mau belajar melantunkan lagu. Bukan karena ia percaya bahwa ia akan benar-benar menjadi sastrawan atau penyair atau penyanyi yang berbakat. Tapi semata-mata ia tidak kuat menahan menahan gelombang makna-makna cinta.

Cinta membuat jiwa kita jadi halus dan lembut. Maka semua yang lahir dari kehalusan dan kelembutan itu adalah juga makna-makna yang halus dan lembut. Hanya katalah yang dapat mengurainya, menjamahnya perlahan-lahan sampai ia tampak terang dalam imaji kita.

Puisi “Aku Ingin”nya Sapardi Djoko Damono mungkin bisa jadi sebuah contoh bagaimana kata mengurai dan menjamah makna-makna itu. Apakah Sapardi sedang jatuh cinta itu atau sedang memaknai kembali cintanya? Saya tidak tahu! Tapi begini katanya:

Aku ingin mencintaimu
dengan cara yang sederhana
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu
dengan cara yang sederhana
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

## Selengkapnya....

Amazing Story: Sipir Guantanamo Masuk Islam!


Sel Guantanamo yang hening di waktu malam mengantarkannya bersyahadat. Ia memeluk Islam ketika didera skeptis oleh perlakuan negaranya terhadap tahanan yang disebut teroris
-----
Oleh Chairul Akhmad


Awal tahun 2004, ia baru enam bulan menjadi sipir penjara Guantanamo. Pada suatu malam yang hening, ia berbincang-bincang dengan tahanan No 560, warga Maroko yang dikenal dengan sebutan "Jenderal". Sebuah percakapan yang membuatnya mengubah jalan hidup.

Namanya Terry Holdbrooks, ia bertugas menjaga dan mengawasi para tahanan yang kebanyakan dituding sebagai teroris oleh pemerintah AS. Holdbrooks mengawal mereka ketika akan diinterogasi, atau kemana pun mereka pergi. Namun shift malam berjalan lamban tanpa kegiatan berarti.

"Satu-satunya yang harus kau lakukan adalah mengepel lantai," ujarnya.

Ia kemudian menghabiskan malam dengan duduk bersilang kaki di lantai, berbincang-bincang dengan para tahanan lewat lubang besi pintu sel, terutama dengan tahanan No 560.

Akhirnya, hubungan Holdbrooks dengan 'Sang Jenderal' yang bernama asli Ahmad Errachidi, kian akrab.

Bincang-bincang tengah malam mereka menggiring Holdbrooks pada sikap skeptis terhadap penjara (Guantanamo). Ia pun kian berpikir tentang jalan hidupnya yang dianggap salah.

Setelah itu, Holdbrooks memesan buku-buku tentang Arab dan Islam, dan mulai mempelajari agama yang dianggapnya menarik.

Tak lama kemudian, ngobrol santai malam-malam itu pun berubah menjadi pengucapan syahadat. Holdbrooks menyodorkan pulpen dan sebuah kartu kepada Errachidi lewat lubang sel, memintanya menuliskan syahadat dalam bahasa Inggris dan terjemahannya dalam bahasa Arab.

Holdbrooks mengucapkan kata-kata yang tertulis di kartu dengan suara lantang. Ia memeluk Islam, di atas lantai penjara Kamp Delta Guantanamo.

Holdbrooks, yang meninggalkan militer tahun 2005, membagi pengalamannya kepada Majalah Newsweek, dalam sebuah wawancara beberapa minggu lalu. Ia dan mantan sipir Guantanamo lainnya mengungkapkan perlakuan sadis terhadap para tahanan yang dilakukan oleh tentara, paramedis, dan para interogator yang ingin membalas dendam. Terutama terhadap tahanan yang dituding terlibat dalam serangan 9/11 di New York.

Seiring dengan munculnya kabut rahasia Guantanamo, pemandangan lainnya juga bermunculan. Termasuk adanya interaksi mengejutkan antara sipir dan tahanan; baik dalam masalah politik, agama, maupun musik. Sebuah hubungan timbal-balik yang mengundang keanehan kedua belah pihak, bahkan terkadang melahirkan empati.

"Para tahanan biasanya berbicara dengan sikap hormat kepada para penjaga yang juga menunjukkan sikap serupa," kata Errachidi, yang sudah lima tahun menghuni Guantanamo, dan kini telah pulang ke Maroko. "Kami berbicara tentang segala hal, yang biasa, hal-hal yang umum," imbuhnya.

Tingkat identifikasi Holdbrooks dengan pihak lain memang luar biasa. Tak seorang pun penjaga (sipir) maupun sukarelawan yang masuk Islam di Guantanamo.

Pengalaman di tempat kuliahnya mengajarkan bahwa para penjaga dan tahanan biasanya saling bermusuhan. Namun, Holdbrooks sepertinya membalikkan kaidah alam. Bahkan ia dituding melakukan konspirasi.

Holdbrooks tumbuh dan besar di Kota Phoenix, Arizona. Ia mengaku pemabuk berat sebelum masuk militer tahun 2002, dan "anti segalanya". Kedua telinganya berlubang dan dihiasi anting kayu, lengannya dihiasi tato hingga ke bahu. Kamar apartemennya dipenuhi memorabilia film-film horor.

Holdbrooks juga seorang pencinta lagu-lagu metal.

Holdbrooks -yang disebut TJ oleh teman-temannya- bergabung dengan militer AS hanya untuk menghindari masalah seperti yang dialami orang tuanya. Dia mengikuti kata hatinya untuk mencari ketenangan.

Pertama kali meninggalkan rumah, dia langsung bertunangan dengan seorang perempuan yang baru delapan hari dikenalnya. Holdbrooks lalu menikahinya tiga bulan kemudian.

Dengan pemahaman keagamaan yang kurang, Holdbrooks tersentak oleh ketaatan para tahanan Guantanamo dalam menjaga keimanan mereka.

"Kebanyakan orang-orang Amerika telah meninggalkan Tuhan, namun di tempat ini (para tahanan), begitu teguh menjalankan shalat," tuturnya.


Penahanan Errachidi mengundang kecurigaan Holdbrooks. Orang Maroko itu bekerja sebagai koki di Inggris selama 18 tahun, dan sangat lancar berbahasa Inggris.

Errachidi mengatakan pada Holdbrooks, ia tengah melakukan perjalanan ke Pakistan dalam rangka bisnis akhir September 2001, untuk mencari biaya operasi anaknya.

Ketika melintasi Afghanistan, ia ditangkap oleh pasukan NATO dan dijual ke pasukan AS seharga $5,000. Di Guantanamo, Errachidi dituduh mengikuti pelatihan di kamp al-Qaida.

Namun, investigasi yang dilakukan oleh surat kabar London Times tahun 2007 membenarkan cerita Errachidi. Hal ini menuntunnya ke gerbang pembebasan.

Errachidi mengaku tidak terlalu ingat malam saat Holdbrooks masuk Islam. Selain dengan Holdbrooks, Errachidi juga berdiskusi dengan para penjaga lainnya.

Topiknya beragam, terutama tentang agama Kristen dan pengorbanan Yesus. Ketika Holdbrooks berniat masuk Islam, Errachidi sempat menasihatinya, bahwa konsekuensi keimanannya akan mendatangkan kesulitan.

Setelah bersyahadat, terjadi perubahan mencolok pada perilaku Holdbrooks. Teman-temannya sesama sipir merasa aneh dengan perubahan yang terjadi pada pemuda Phoenix itu. Mereka mendengar para tahanan memanggilnya Mustapha, dan melihat Holdbrooks rajin belajar bahasa Arab.

Suatu ketika, teman-temannya sesama anggota militer menggeledah apartemen Holdbrooks di Phoenix. Mereka menggiringnya ke halaman, sementara beberapa orang lainnya masuk ke dalam kamar. Mereka menemukan tumpukan buku-buku agama Islam, al-Qur'an, juga buku The Complete Idiot's Guide to Understanding Islam.

Setelah melihat bukti-bukti dalam kamarnya mereka pun pergi dan meneriaki Holdbrooks dengan kata-kata pengkhianat. Tak lupa, sang komandan memberikannya hadiah berupa bogem mentah di wajahnya.

Beberapa bulan kemudian, Holdbrooks keluar dari militer, dua tahun sebelum masa penugasannya berakhir. Begitu pensiun dari militer, ia kembali tenggelam dalam dunia alkohol. Mabuk hampir tiap waktu dan menghabiskan $60 per hari untuk membeli minuman.

Baru-baru ini, Holdbrooks kembali berhubungan dengan Errachidi, yang kini didera tekanan batin sejak meninggalkan Guantanamo. Errachidi mengaku mengalami masalah dalam menikmati kebebasannya. Ia tengah berupaya belajar berjalan tanpa bantuan tongkat penyangga, dan mencoba tidur malam dalam kondisi lampu padam.

Adapun Holdbrooks, yang kini berusia 25 tahun, sudah berhenti mabuk sejak tiga bulan lalu. Ia rajin mengikuti shalat jamaah lima waktu di Islamic Center Tempe, sebuah masjid dekat Universitas Phoenix. Kemana-mana ia selalu memakai songkok dan aktif dalam mengikuti kegiatan keislaman yang diselenggarakan di Tempe.

Ketika Imam Masjid Tempe mengenalkan Holdbrooks kepada para jamaah dan menjelaskan bahwa ia masuk Islam di Guantanamo, beberapa orang langsung merubung dan menjabat tangannya dengan erat.

"Saya kira mereka (AS) menempatkan orang-orang paling kejam di Guantanamo. Saya tidak pernah mengira ada orang seperti TJ," canda Amr Elsamny, sang imam, kepada jamaah.

Mantan sipir di penjara angker yang juga seorang pemabuk itu, kini telah menemukan ketenangan, dengan menjadi seorang Muslim.

sumber: sabili.co.id
----
copy posted from: pkspiyungan.blogspot.com

## Selengkapnya....

Kamis, 02 April 2009

'Tugas kita adalah menegaskan tekad dan memulai perjalanan'


Anis Matta

-----
Setelah berbicara tentang bagaimana sebuah partai politik bisa hidup, maka kita harus berbicara tentang bagaimana partai politik itu bisa memimpin. Untuk menjadi partai yang mampu memimpin (leading) kita harus memiliki tiga hal. Dan, tiga hal ini yang harus terus kita ulang-ulang:


- Pertama, narasi yang besar. Kita hanya akan memimpin apabila kita membawa gagasan besar yang dapat merangkul dan mewadahi seluruh harapan dan energi masyarakat. Gagasan itulah yang memberi kanal yang dapat menyalurkan energi yang ada pada masyarakat dan mengubahnya menjadi harapan bersama yang mencerahkan.

- Kedua, kapasitas. Gagasan besar itu hanya akan menjadi realitas kalau ada kapasitas yang memadai —pada skala individu maupun struktur— yang dapat mengeksekusi gagasan itu.

- Ketiga, sumber daya. Dalam segala bentuknya, seperti informasi, pengetahuan, sarana finansial, dan lain-lain adalah sarana yang diperlukan untuk mengeksekusi gagasan tersebut.

Jadi, makin besar narasi, kapasitas, dan sumber daya kita, makin besar kemampuan kita mengeksekusi. Itu modal yang besar. Sesudah itu yang kita tunggu tinggal momentum. Kalau kita punya tigal hal di atas, maka peluang itu hanyalah masalah waktu. Kita akan mendapat kemenangan dan memimpin kalau kita mempunyai kemampuan mengelola ide-ide, memiliki kapasitas untuk mengeksekusi ide-ide itu, dan memiliki sarana untuk merealisasi ide-ide itu.

Pada akhirnya, segala cita-cita punya kadarnya untuk kita geluti prosesnya secara maksimal, tahap demi tahap. Tapi ia juga punya kadarnya untuk kita serahkan kepada Allah dengan penuh pengharapan dan doa yang juga maksimal. Sejarah Islam juga mengajarkan, betapa Rasululah dan para pejuang pendahulu kita yang shalih, telah membuktikan, ketika umat Islam mengawali cita-cita dengan keyakinan iman, niat yang tulus, kerja yang tak kenal lelah, maka sesudah itu biasanya Allah sendiri yang mengambil alih sisa pekerjaan itu semua. Dan, memberi mereka kemenangan yang nyata, nasran aziza, dengan cara Allah sendiri.

Maka saya sangat yakin, bila kita memiliki keyakinan yang kuat, ketulusan niat, kebersamaan yang kokoh, dan kerja keras tanpa kenal lelah, nanti Allah juga akan mengambil alih sisa-sisa pekerjaan yang masih besar, lalu memberi kita kemenangan-Nya, dengan cara-Nya sendiri, bahkan sering melampui batas-batas imajinasi kita, tanpa pernah kita mengerti.

Jangan pernah merasa kita akan bisa menyelesaikan pekerjaan ini sendiri. Tugas kita adalah menegaskan tekad dan memulai perjalanan. Setelah itu Allah akan membimbing kita hingga akhir perjalanan. Insya Allah. ***
----

copy from: pkspiyungan.blogspot.com

## Selengkapnya....