FILOSOFI TARBAWI DAN KARAKTER KADER SEJATI
”Tarbiyah memang bukanlah segala-galanya, tetapi segala-galanya takkan bisa diraih kecuali melalui tarbiyah”. Ungkapan tersebut adalah perkataan dari seorang tokoh Ikhwan, Syaikh Mustafa Masyhur yang juga seorang mursyid aam ke-lima gerakan Islam terbesar di abad modern ini. Dengan nada yang mungkin agak hiperbolis (dan mungkin sekaligus narsis), beliau mengajak kita untuk lebih dalam merenungkan tentang peran tarbiyah yang sangat fundamental dalam kehidupan pergerakan kita. Maka diambillah kesimpulan bahwa tarbiyahlah ruh pergerakan kita, dan oleh karenanya tersebutlah kita; Gerakan Tarbiyah.
Bila dikatakan bahwa klaim penyebutan istilah tertentu sebagai sebuah ciri kental yang terdapat dalam sesuatu yang dinisbatkan istilah tersebut, dalam hal ini, berarti tarbiyah adalah istilah yang disematkan kepada suatu komunitas, golongan, atau juga kelompok amal Islami, yang mereka menunjukkan kekhas-an dengan ciri-ciri tertentu yang mengasosiasikan istilah ”tarbiyah”. Biasanya, beberapa hal yang menjadi penisbatan istilah tarbiyah pada sebuah pergerakan Islam merujuk pada dimensi-dimensi yang melatari kehidupan pergerakan tersebut, baik dari dimensi filosofis, strategis, hingga tekhnis cara ataupun perangkat yang menunjang gerakan tersebut dalam merealisasikan tujuan perjuangannya.
Tarbiyah, menurut seorang ahli bahasa arab bernama Abdurrahman An-Nahlawi, sebagaimana ditulis dalam buku ”Refleksi Diri Seorang Murobbi”, adalah terdiri atas tiga akar kata. Pertama raba-yarbu yang maknanya bertambah dan berkembang. Kedua, rabiya-yarba yang bermakna tumbuh dan berkembang. Ketiga, rabba-yarubbu yang berarti memperbaiki, mengurusi, mengatur, menjaga, dan memperhatikan. Maka mengikuti beberapa akar kata pembentuk istilah tarbiyah ini, bolehlah ditarik makna filosofis kata tarbiyah yang berarti tumbuh dan berkembang, berubah dan meng-indah, perbaikan yang berkesinambungan, dan sesuatu rumusan kata lain yang menandakan ke-”baru”an diri serta organisasi dalam aktifitas kesehariannya untuk menjadi senantiasa lebih baik. Maka tepatlah mutiara kata yang diucapkan oleh pendiri gerakan tarbiyah ini, Syaikh Hasan Al-Banna, yang menyiratkan akan hakikat tarbiyah ke dalam sebuah ungkapan, ”Kenyataan hari ini adalah mimpi hari kemarin, dan mimpi hari ini adalah kenyataan esok hari”.
Berlandas pada filosofi tersebutlah gerakan tarbiyah ini diwujudkan. Adalah semangat untuk memperbaiki diri, membentuk keluarga yang Islami, masyarakat Islami, negara Islami, daulah dan khilafah, hingga Islam menjadi soko guru dunia. Kesemuanya itu adalah langkah strategis yang berbentuk cincin spiral pentahapan amal kita, yang kemudian dengan tegas dan bangga kita katakan kepada dunia, bahwa manhaj dakwah kita bukanlah utopia!!!
Refleksi akan realita kondisi tarbawi kita
Adalah di atas landasan ”tumbuh dan berkembang” gerakan dakwah ini merealisasikan amalnya. Dalam dinamika perjalanan tarbiyah kita, ruh pertumbuhan dan perkembangan menjadi sebuah orientasi yang harus senantiasa kita pegang teguh, baik dalam skala kuantitas peningkatan jumlah kader, juga skala peningkatan kafa’ah personal kader yang telah terbina, semuanya harus selalu di ukur dan dievaluasi, sudah sejauh mana pertumbuhan dan perkembangan ini menjadi ruh yang mengorientasi amal Islami (dakwah) yang kita laksanakan dalam setiap programnya.
Coba kita melihat medan amal kita saat ini yang sudah mulai beranjak dari mihwar mu’assasi ke mihwar dauli. Memang, boleh jadi banyak peningkatan yang kita rasakan dan alami dari perjalanan dakwah kita. Minimal, jika dilihat dari marhalatudda’wah saat ini yang sudah melewati tiga mihwar dalam usia dakwah kita yang sudah lebih dari seperempat abad mewarnai dinamika negeri ini. Atau juga, sebutlah peningkatan itu dengan jumlah angka kader dakwah yang terus menggelembung disetiap waktu perjalanannya. Akan tetapi, ada banyak peristiwa yang terjadi mengiringi lembaran baru dakwah kita di era jahriyah-jamahiriyah ini. Di samping sesuatu yang menggembirakan dibalik kiprah dzahiratudda’wah kita sejak beberapa tahun penghujung milenium ke 20 lalu, ada pula beberapa fenomena dan peristiwa yang bila kita evaluasi dengan kejernihan hati, gusarlah kita dibuatnya.
Adalah fenomena euforia tarbawi –izinkan saya menyebutnya demikian-, yang mengiringi lembaran baru dakwah kita di tahun-tahun ini. Sebuah fenomena yang dalam sudut pandang pengkajian saya, bukanlah sebagaimana euforia dalam arti positif seperti apa yang pernah diistilahkan oleh mua’ssis dakwah kita di eranya dahulu dengan istilah ”sakau tarbiyah”, sebagai istilah saja untuk menyebutkan kehausan mereka untuk dididik dan dibina oleh rahim tarbiyah. Euforia yang saya maksud di sini adalah jangkitan virus ambisi selebriti dari segelintir pribadi yang mulai terlibat ke dalam dunia ketarbawiyahan di fase jahriyah-jamahiriyah dengan berbajukan partai. Saat dimana dakwah menjadi fenomena di tengah-tengah masyarakat hingga menjadi trend sosial. Waktu dimana simbol dua bulan sabit yang mengapit padi dan kapas menjadi jaminan kredibilitas di mata sosial, yang disaat bersamaan, kultur yang menuansakan tarbiyah menjadi arus baru di tengah masyarakat kita.
Adalah keputusan untuk ”menunjukkan wajah kita yang sebenarnya” yang kemudian karenanya kita banyak dikenal oleh massa. Barangkali ada yang hampir lupa tentang kisah kita yang sebelumnya hanya mencoba merealisasikan proyek raksasa peradaban lewat kelompok-kelompok kecil bawah tanah berjumlah 5-12 orang, hingga saat ini kita menjadi sorotan publik karena beragam prestasi sosial-politik yang pernah kita raih. Maka muncullah efek-efek selebriti dari kemenonjolan kita di pentas sosial. Popularitas menjadi barang kembalian yang sebetulnya sangat tidak kita inginkan dari pembayaran tanpa pamrih kita dalam berjuang. Sampai di sini mungkin tidak menjadi begitu bermasalah, karena para ”korban” yang terfitnah oleh fenomena efek selebriti tersebut adalah pribadi-pribadi yang telah matang dalam tarbiyah, sehingga dapat menyingkirkan godaan megalomania dan tawaran-tawaran yang datang ”membawa dunia” yang begitu deras menyerbu mereka.
Terdapat hukum sosial yang menyatakan bahwa semakin banyak jumlah kuantitas sebuah kelompok ideologis, maka semakin menurun kualitas yang mereka miliki. Dan betul, hal itu yang terjadi pula dalam barisan perjuangan kita. Sudah semakin lirih gema suara cerita ketauladanan yang pernah dipertunjukkan dalam diary perjalanan tarbiyah di masa lalu. Sekarang justru yang terlihat adalah warna-warni gincu tarbiyah yang terlihat menor, namun di saat yang bersamaan kehilangan esensinya. Seperti ketika ditanyakan kepada seorang ikwan, ”akhi, antum kader ya?”, maka di jawab olehnya,”ya”. Dan ketika ditanyakan kembali, ”buktinya apa?”, dia akan menjawab, ”saya ikut liqo, dan saya juga aktif dikepengurusan struktur dakwah”. Namun lucu ketika dilihat form mutaba’ah pekanannya yang menunjukkan kesedikitan amalnya dalam setiap hari, mulai dari sholat lima waktu berjama’ah yang banyak bolongnya, tilawah yang 1 juz bukan dipenuhi dalam tempo satu hari, melainkan 1 juz adalah amalan tilawah satu pekan, hafalan Al-Qur’an yang sudah 3-4 tahun masih belum memecahkan rekor hafal juz 30 dan sebagainya. Kesemua fakta itu mempertunjukkan kepada kita akan ketidaksejatian tarbawi seorang kader dakwah tarbiyah.
Penutup: Kesejatian tarbawi seorang kader tarbiyah
Sebagaimana disampaikan di poin sebelumnya tentang filosofi ketarbawian, yang secara akar etimologis ia bermakna tumbuh dan berkembang, maka ciri kesejatian tarbawi seorang kader dakwah tarbiyah adalah kesinambungan peningkatan kapasitasnya, baik yang bisa dikuantifikasikan maupun yang sekedar diukur secara indikator kualitas. Maka kader tarbiyah yang sejati adalah mereka yang terjaga sholat wajibnya, teroptimalkan amalan sunnahnya, tertingkatkan kafa’ah ilmiyah serta syar’iyahnya, berusaha menambah terus hafalan Al-Qur’annya dan sebagainya yang menunjukkan grafik yang senantiasa meningkat, meningkat, dan terus meningkat. Bukan justru sebaliknya, yaitu kader yang hanya pandai bicara, namun kosong ruhiyahnya, buta pengetahuan syar’iyahnya, dan lemah struktur ma’nawinya. Maka sebagai pekerjaan rumah kita bersama sebagai pegiat gerakan tarbiyah adalah senantiasa berupaya menjaga keasholahan dakwah ini. Janganlah euforia tarbawi membawa ekses buruk berupa penurunan-penurunan kualitas yang tak mampu lagi terantisipasi, dan dakwah ini menjadi kehilangan orientasi. Maka marilah kita bergerak bersama untuk memperbaiki. Wallohu a’lam bish showwab. (Abu Al-Faruq, U. Tri Rahmadi)
Bila dikatakan bahwa klaim penyebutan istilah tertentu sebagai sebuah ciri kental yang terdapat dalam sesuatu yang dinisbatkan istilah tersebut, dalam hal ini, berarti tarbiyah adalah istilah yang disematkan kepada suatu komunitas, golongan, atau juga kelompok amal Islami, yang mereka menunjukkan kekhas-an dengan ciri-ciri tertentu yang mengasosiasikan istilah ”tarbiyah”. Biasanya, beberapa hal yang menjadi penisbatan istilah tarbiyah pada sebuah pergerakan Islam merujuk pada dimensi-dimensi yang melatari kehidupan pergerakan tersebut, baik dari dimensi filosofis, strategis, hingga tekhnis cara ataupun perangkat yang menunjang gerakan tersebut dalam merealisasikan tujuan perjuangannya.
Tarbiyah, menurut seorang ahli bahasa arab bernama Abdurrahman An-Nahlawi, sebagaimana ditulis dalam buku ”Refleksi Diri Seorang Murobbi”, adalah terdiri atas tiga akar kata. Pertama raba-yarbu yang maknanya bertambah dan berkembang. Kedua, rabiya-yarba yang bermakna tumbuh dan berkembang. Ketiga, rabba-yarubbu yang berarti memperbaiki, mengurusi, mengatur, menjaga, dan memperhatikan. Maka mengikuti beberapa akar kata pembentuk istilah tarbiyah ini, bolehlah ditarik makna filosofis kata tarbiyah yang berarti tumbuh dan berkembang, berubah dan meng-indah, perbaikan yang berkesinambungan, dan sesuatu rumusan kata lain yang menandakan ke-”baru”an diri serta organisasi dalam aktifitas kesehariannya untuk menjadi senantiasa lebih baik. Maka tepatlah mutiara kata yang diucapkan oleh pendiri gerakan tarbiyah ini, Syaikh Hasan Al-Banna, yang menyiratkan akan hakikat tarbiyah ke dalam sebuah ungkapan, ”Kenyataan hari ini adalah mimpi hari kemarin, dan mimpi hari ini adalah kenyataan esok hari”.
Berlandas pada filosofi tersebutlah gerakan tarbiyah ini diwujudkan. Adalah semangat untuk memperbaiki diri, membentuk keluarga yang Islami, masyarakat Islami, negara Islami, daulah dan khilafah, hingga Islam menjadi soko guru dunia. Kesemuanya itu adalah langkah strategis yang berbentuk cincin spiral pentahapan amal kita, yang kemudian dengan tegas dan bangga kita katakan kepada dunia, bahwa manhaj dakwah kita bukanlah utopia!!!
Refleksi akan realita kondisi tarbawi kita
Adalah di atas landasan ”tumbuh dan berkembang” gerakan dakwah ini merealisasikan amalnya. Dalam dinamika perjalanan tarbiyah kita, ruh pertumbuhan dan perkembangan menjadi sebuah orientasi yang harus senantiasa kita pegang teguh, baik dalam skala kuantitas peningkatan jumlah kader, juga skala peningkatan kafa’ah personal kader yang telah terbina, semuanya harus selalu di ukur dan dievaluasi, sudah sejauh mana pertumbuhan dan perkembangan ini menjadi ruh yang mengorientasi amal Islami (dakwah) yang kita laksanakan dalam setiap programnya.
Coba kita melihat medan amal kita saat ini yang sudah mulai beranjak dari mihwar mu’assasi ke mihwar dauli. Memang, boleh jadi banyak peningkatan yang kita rasakan dan alami dari perjalanan dakwah kita. Minimal, jika dilihat dari marhalatudda’wah saat ini yang sudah melewati tiga mihwar dalam usia dakwah kita yang sudah lebih dari seperempat abad mewarnai dinamika negeri ini. Atau juga, sebutlah peningkatan itu dengan jumlah angka kader dakwah yang terus menggelembung disetiap waktu perjalanannya. Akan tetapi, ada banyak peristiwa yang terjadi mengiringi lembaran baru dakwah kita di era jahriyah-jamahiriyah ini. Di samping sesuatu yang menggembirakan dibalik kiprah dzahiratudda’wah kita sejak beberapa tahun penghujung milenium ke 20 lalu, ada pula beberapa fenomena dan peristiwa yang bila kita evaluasi dengan kejernihan hati, gusarlah kita dibuatnya.
Adalah fenomena euforia tarbawi –izinkan saya menyebutnya demikian-, yang mengiringi lembaran baru dakwah kita di tahun-tahun ini. Sebuah fenomena yang dalam sudut pandang pengkajian saya, bukanlah sebagaimana euforia dalam arti positif seperti apa yang pernah diistilahkan oleh mua’ssis dakwah kita di eranya dahulu dengan istilah ”sakau tarbiyah”, sebagai istilah saja untuk menyebutkan kehausan mereka untuk dididik dan dibina oleh rahim tarbiyah. Euforia yang saya maksud di sini adalah jangkitan virus ambisi selebriti dari segelintir pribadi yang mulai terlibat ke dalam dunia ketarbawiyahan di fase jahriyah-jamahiriyah dengan berbajukan partai. Saat dimana dakwah menjadi fenomena di tengah-tengah masyarakat hingga menjadi trend sosial. Waktu dimana simbol dua bulan sabit yang mengapit padi dan kapas menjadi jaminan kredibilitas di mata sosial, yang disaat bersamaan, kultur yang menuansakan tarbiyah menjadi arus baru di tengah masyarakat kita.
Adalah keputusan untuk ”menunjukkan wajah kita yang sebenarnya” yang kemudian karenanya kita banyak dikenal oleh massa. Barangkali ada yang hampir lupa tentang kisah kita yang sebelumnya hanya mencoba merealisasikan proyek raksasa peradaban lewat kelompok-kelompok kecil bawah tanah berjumlah 5-12 orang, hingga saat ini kita menjadi sorotan publik karena beragam prestasi sosial-politik yang pernah kita raih. Maka muncullah efek-efek selebriti dari kemenonjolan kita di pentas sosial. Popularitas menjadi barang kembalian yang sebetulnya sangat tidak kita inginkan dari pembayaran tanpa pamrih kita dalam berjuang. Sampai di sini mungkin tidak menjadi begitu bermasalah, karena para ”korban” yang terfitnah oleh fenomena efek selebriti tersebut adalah pribadi-pribadi yang telah matang dalam tarbiyah, sehingga dapat menyingkirkan godaan megalomania dan tawaran-tawaran yang datang ”membawa dunia” yang begitu deras menyerbu mereka.
Terdapat hukum sosial yang menyatakan bahwa semakin banyak jumlah kuantitas sebuah kelompok ideologis, maka semakin menurun kualitas yang mereka miliki. Dan betul, hal itu yang terjadi pula dalam barisan perjuangan kita. Sudah semakin lirih gema suara cerita ketauladanan yang pernah dipertunjukkan dalam diary perjalanan tarbiyah di masa lalu. Sekarang justru yang terlihat adalah warna-warni gincu tarbiyah yang terlihat menor, namun di saat yang bersamaan kehilangan esensinya. Seperti ketika ditanyakan kepada seorang ikwan, ”akhi, antum kader ya?”, maka di jawab olehnya,”ya”. Dan ketika ditanyakan kembali, ”buktinya apa?”, dia akan menjawab, ”saya ikut liqo, dan saya juga aktif dikepengurusan struktur dakwah”. Namun lucu ketika dilihat form mutaba’ah pekanannya yang menunjukkan kesedikitan amalnya dalam setiap hari, mulai dari sholat lima waktu berjama’ah yang banyak bolongnya, tilawah yang 1 juz bukan dipenuhi dalam tempo satu hari, melainkan 1 juz adalah amalan tilawah satu pekan, hafalan Al-Qur’an yang sudah 3-4 tahun masih belum memecahkan rekor hafal juz 30 dan sebagainya. Kesemua fakta itu mempertunjukkan kepada kita akan ketidaksejatian tarbawi seorang kader dakwah tarbiyah.
Penutup: Kesejatian tarbawi seorang kader tarbiyah
Sebagaimana disampaikan di poin sebelumnya tentang filosofi ketarbawian, yang secara akar etimologis ia bermakna tumbuh dan berkembang, maka ciri kesejatian tarbawi seorang kader dakwah tarbiyah adalah kesinambungan peningkatan kapasitasnya, baik yang bisa dikuantifikasikan maupun yang sekedar diukur secara indikator kualitas. Maka kader tarbiyah yang sejati adalah mereka yang terjaga sholat wajibnya, teroptimalkan amalan sunnahnya, tertingkatkan kafa’ah ilmiyah serta syar’iyahnya, berusaha menambah terus hafalan Al-Qur’annya dan sebagainya yang menunjukkan grafik yang senantiasa meningkat, meningkat, dan terus meningkat. Bukan justru sebaliknya, yaitu kader yang hanya pandai bicara, namun kosong ruhiyahnya, buta pengetahuan syar’iyahnya, dan lemah struktur ma’nawinya. Maka sebagai pekerjaan rumah kita bersama sebagai pegiat gerakan tarbiyah adalah senantiasa berupaya menjaga keasholahan dakwah ini. Janganlah euforia tarbawi membawa ekses buruk berupa penurunan-penurunan kualitas yang tak mampu lagi terantisipasi, dan dakwah ini menjadi kehilangan orientasi. Maka marilah kita bergerak bersama untuk memperbaiki. Wallohu a’lam bish showwab. (Abu Al-Faruq, U. Tri Rahmadi)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar